FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN HALUSINASI

Nama : Rini Rindiani
Nim : C1AA18094





FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN HALUSINASI
                                    
    A.   DEFINISI
Halusinasi adalah sala satu gejala gangguan dimana klien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan. Klien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada.
Jenis-jenis Halusinasi ada :
a)      Halusinasi penglihatan (visual, optik) adalah perasaan melihat sesuatu objek tetapi pada kenyataannya tidak ada. 
b)      Halusinasi pendengaran (auditif, akustik) adalah perasaan mendengar suara-suara,berupa suara manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik. 
c)      Halusinasi penciuman (olfaktorik) adalah perasaan mencium sesuatu bau atau aroma tetapi tidak ada. 
d)     Halusinasi pengecapan (gustatorik) adalah kondisi merasakan sesuatu rasa tetapi tidak ada dalam mulutnya, seperti rasa logam. 
e)      Halusinasi peraba (taktil) adalah kondisi merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau seperti ada ulat bergerak di bawah kulitnya. 
f)       Halusinasi kinestetik adalah kondisi merasa badannya bergerak dalam sebuah ruang, atau anggota badannya bergerak.
    B.    FAKTOR –FAKTOR KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT
Ketidakpatuhan minum obat pada pasien halusinasi di dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan dukungan keluarga yang terdiri atas dukungan informasi, dukungan penilaian, dukungan instrumental dan dukungan emosional berpengaruh terhadap ketidakpatuhan minum obat pada pasien halusinasi.
Pasien dengan gangguan halusinasi terkadang melupakan keteraturan minum obat yang tidak jarang menimbulkan kekambuhannyang tentu saja dapat berimbas buruk pada proses penyembuhan pasien dengan gangguan halusinasi. Faktor pengetahuan serta dukungan keluarga diduga kuat sangat berperan penting dalam keteraturan minum obat pada pasien dengan gangguan jiwa.
    C.    TANDA DAN GEJALA
1.      Menyerangi atau tertawa yang tidak sesuai.
2.      Menggerakan bibirnya tanpa bersuara.
3.      Gerakan mata abnormal.
4.      Respon verbal yang lambat.
5.      Diam.
6.      Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang menyaksikan.
7.      Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukan ansietas misalnya peningkatan nadi,pernapasan dan tekanan darah.






















REFERENSI
Utami,R.,Rahayu,P,P.,(2018).Hubungan lama hari rawat dengan tanda dan gejala serta kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi.Jurnal Keperawatan Volume.6 No.
Pelealu,A.,Bidjuni,H.,Wowiling,F.,(2018).Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pasien skizofrenia di rumah sakit jiwa prof.dr.v.l.ratumbuysang provinsi sulaewesi utara.e-journal Keperawatan (e-Kp )Volume 6 Nomer 1.
Purnamasari,I.,Rauf,P,S.,Hasriyanti,E.,(2018).Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan minum obat pada pasien halusinasi di wilayah kerja puskesmas batua kota makasar.Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 13 Nomer 1.
Jalal,B.,(2018).The neuropharmacology of sleep paralysis hallucinations:serotonin 2A  activation and a novel therapeutic drugh.
Suzuki,K.,Roseboom,W.,Schwartzman,D,J.,Seth,A,K.,(2018).Halluciation Machine:Simulating altherd perpectual phenomenology with a deep-dream Virtual reality platfom.

Komentar

  1. Terima kasih atas ilmunya sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus
  2. Sangat bermanfaat . Semoga ilmunya berkah

    BalasHapus
  3. Terimakasih jadi bisa tau apa yg tdak boleh di lakukan bermanfaat sekali.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Sangat bagus dan sangat bermanfaat, semoga ilmunya berkah, Sukses terus buat de Rini.

    BalasHapus

Posting Komentar